Senin, 05 Mei 2014

12 Penyebab Kualitas Pendidikan Indonesia Rendah

Internasional, SetaraNews.com - Kualitas pendidikan di Indonesia yang kini kian memprihatinkan, cukup membuat kita sesak dada dan tak habis pikir, apa yang salah sebenarnya dengan sistem pendidikan kita. Terlebih jika kita sering mendengar di media masa, bahwa kuliatas pendidikan nasional dan kualitas tenaga pengajar kita hampir terendah di dunia. Apakah gerangan yang membuat kita terperosok?

Lantas mari kita bandingkan dengan Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia dan yang jauh lebih baik dari Indonesia. Lalu apa sebenarnya yang berbeda dari sistem pendidikan Indonesia?

1) Finlandia : Anak-anak baru diperbolehkan bersekolah setelah mereka berusia 7 tahun.


Indonesia : ada playgroup, TK A, TK B, bahkan sebelum umur 3 tahun pun sudah ada yang ‘menyekolahkan’ anaknya, meskipun memang cuma satu jam dengan tujuan anaknya bersosialisasi. Masalahnya lagi, untuk masuk SD pun sekarang anak-anak diharuskan sudah bisa membaca.

2) Finlandia : sebelum mencapai usia remaja, anak-anak ini jarang sekali diminta mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak pernah disuruh mengikuti ujian.

Indonesia : TK pun sekarang sudah punya pekerjaan rumah, meski pun cuma sekadar menebalkan garis dan menulis angka.

3) Finlandia : hanya ada satu tes yang wajib diikuti oleh pelajar, dan saat itu mereka berusia 16 tahun.


Indonesia : like I mentioned before, masuk SD pun ada tesnya. Terutama SD favorit.



4) Finlandia : sekolah tidak membedakan anak yang pintar dan kurang pintar. Seluruhnya ditempatkan di dalam ruang kelas yang sama.

Indonesia : ada beberapa sekolah yang memberlakukan pembagian kelas berdasarkan tingkat intelegensia anak. Contoh : peringkat 1-10 masuk ke kelas A, 11-20 kelas B, dst.

5) Finlandia : Kesenjangan antara murid terpintar dan murid paling tidak pintar di Finlandia adalah yang terkecil di dunia. Artinya, murid paling tidak pintar pun masih terhitung pintar.




Indonesia : kesenjangan begitu terlihat, banyak siswa pintar, yang kurang pun banyak.

6) Finlandia : Setiap guru hanya menghabiskan waktu 4 jam sehari di kelas dan punya waktu 2 jam per minggu yang didedikasikan untuk ‘professional development’.




Indonesia : para guru di Indonesia yang bisa mengajar mulai jam 7 pagi sampai jam 3 sore non stop. Imagine how tired they are

7) Finlandia : Jumlah guru yang dimiliki oleh Finlandia sama dengan jumlah guru di New York, namun jumlah murid yang ditangani jauh lebih sedikit.




Indonesia : Jumlah guru dibandingkan murid sangat jauh, dalam 1 kelas biasa terdapat 35 murid, dan 1 guru.

8) Finlandia : Seluruh sistem pendidikan didanai oleh negara. Gratis total.




Indonesia : meskipun sudah ada beberapa wilayah yang menetapkan pendidikan gratis, masih banyak pungutan-pungutan yang harus dibayar siswa kepada sekolah, seperti uang Lab computer, Lab bahasa, dll.

9) Finlandia : Seluruh guru harus memiliki gelar Master/S2 yang didanai seluruhnya oleh pemerintah.




Indonesia : guru harus mencari biaya untuk melanjutkan pendidikan sendiri, tak ada bantuan pemerintah kepada semua guru.

10) Finlandia : Kurikulum nasional hanya berlaku umum. Setiap guru (sepertinya) diberikan kebebasan mengembangkan metode pengajarannya.




Indonesia : Guru wajib mengikuti kurikulum dari pemerintah yang hampir setiap 5 tahun berubah-ubah.

11) Finlandia :yang menjadi guru hanyalah yang merupakan 10 lulusan teratas di universitas.




Indonesia : para lulusan terbaik berprofesi sebagai: Dokter, pengacara, direktur, investasi dan saham, pegawai Pajak.

12) Finlandia : Status guru di masyarakat setara dengan status pengacara dan dokter.

Hal tersebut dibuktikan bahwa sebagian besar murid-murid di Finlandia ditanya, "Siapa yang bercita-cita jadi guru?" Seperempat nya akan mengangkat tangan.




Indonesia : Status guru (apalagi non-PNS) masih sering diremehkan, & dianggap pekerjaan yang kurang mencukupi kebutuhan hidup.

Kasus korupsi dan kasta sosial dalam pendidikan seperti sekolah basis internasional turut memicu kecemburuan sosial yang berakibat pada psikologi peserta didik, sehingga membuat pembangunan dan pengembangan pendidikan tidak merata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar